Rapuhnya Kritisasi Mahasiswa Akibat Peran Artificial Intelligence (AI) Di Dunia Kampus

Oleh

Admin

Jember, Mahasiswa yg sering kita kenal dengan sebutan Agent Of Change sudah mulai digantikan dengan adanya peran AI di Dunia Kampus. Tidak heran jika saat ini kalangan mahasiswa lebih tejebak dengan pragmatisme dan hedonisme. Dulu mahasiswa dikenal dengan perannya yang kritis, semangat berkarya dan senang melakukan gebrakan-gebrakan besar.

Realitas sekarang Mahasiswa justru memprihatinkan, bahkan lebih senang nongkrong dari pada diskusi, scroll Medsos dibanding baca buku untuk memperkaya keilmuannya. Lantas saat sekarang perannya banyak diambil alih adanya AI yang menyebabkan Mahasiswa enggan untuk mikir dan lebih senang sesuatu yang praktis.

Di Era Orde Baru Mahasiswa menjadi orang pertama menolak keterkungkungan serta belenggu kebebasan pers, kebebasan berpendapat dan tidak mau geraknya dibatasi. Satu sisi AI menjadi pendukung peradaban di tengah-tengah Masyarakat luas, kalangan Mahasiswa tanpa terkecuali, disisi lain AI juga berdampak buruk yang mengakibatkan mereka lalai dalam menjalankan tugas Tri Darma Perguruan Tinggi.

Kebiasaan Mahasiswa dulu lebih suka berkarya sendiri dari pada menjiplak (copy-paste) karya orang lain saat mengerjakan tugas, akan tetapi adanya AI yang menjadi trending topik dipelbagai pertemuan ilmiah tidak asing seakan AI menjadi andalan para Mahasiswa. Akhirnya Mahasiswa yang terlena lebih memilih mengerjakan tugas kampus dengan sangat praktis, dengan cara mengetikkan topik memanfaatkan AI sebagai satu-satunua rujukan yang dianggap sudah valid, padahal karya, artikel serta makalah yang dihasilkan dari AI merupakan generalisasi secara umum dan sangat tidak akurat.

AI merupakan produk manusia, lalu digunakan pula dalam berkarya atau mengerjakan tugas Kampus, sehingga banyak di kalangan Mahasiswa tidak lagi menghasilkan karya yang original, bahkan hasil pemikirannya sangat tumpul karena tanpa diimbangi literatur dan analisa yang cukup memadai.

Menurut Jurgen Habermas, Seorang Filsuf sekaligus Sosiolog asal Jerman mengkritik habis-habisan tentang relitas yang sering kali menyebutkan ketidaksesuaian antra teori dan praksisnya. Sering kita temui untuk mewujudkan satu sila yang tertuang dalam rumus ideologi pancasila sering kali kabur dalam pemaknaanya dan prakteknya. Hal tersebut mengakibatkan kesalahpahaman pengambilan keputusan yang kontradiktif dengan tujuan Founding Father yang telah lama di prolamasikan.

Soekarno dikenal dengan pencetus ideologi pancasila, selalu memikirkan hak-hak masyarakat kecil, menjunjung tinggi kesamaan dimata hukum dan kebebasan dalam mengeluarkan pendapatnya. Perjuangan tersebut berjalan sangat panjang dan penuh pengorbanan, namun apa yang menjadi cita-cita Bangsa saat ini justru dirusak dengan adanya pengaruh AI yang merebut peran Manusia sebagai penggerak utama dan seharusnya AI dibawah kendali mereka.

Sementara yang lain, di Ranah Kampus Mahasiswa hakikatnya sebagai sosok yang bijaksana dalam memainkan peranannya baik di bidang pengembangan ilmu pengetahuan, pengabdian di tengah Masyarakat dan berperan aktif di pelbagai penelitian Ilmiah.

Kekhawatiran inilah sudah lama terjadi adanya AI mengambil alih peranan Manusia di semua sektor lini, khususnya kalangan Mahasiswa yang seharusnya AI menjadi media mempermudah dan melengkapi mereka berproses, justru saat ini menjadi duri dan belenggu para Mahasiswa untuk keluar dari pengaruh AI. Mereka lebih senang menggunakan AI dalam menyelesaikan tugas, dibandingkan memanfaat literatur buku sebagai sumber primer melakukan penelitian ilmiah.

Dampak dari AI terhadap Mahasiswa di Dunia Kampus sangat dirasakan disaat Mahasiswa mendapat tugas dari Dosennya, mereka pandai dan lihai mengoperasikan Chatgbt dan gemini dalam menyelesaikan tugas makalah, tugas akhir bahkan nyaris tidak punya karya selama kuliah di 12 semester.

Oleh karena itu, seharusnya Mahasiswa sudah saatnya kembali ke Khittah mempertahankan tradisi lama yang baik, serta berinovasi secara kritis dengan sesuatu yang baru, namun tidak sampai menjadi penyebab terkikisnya semangat, akhirnya enggan berkarya, enggan melakukan perubahan, malas membaca-menulis dan enggan untuk mendalami suatu keilmuannya.

Related Post

Leave a Comment