Dibalik Perubahan Rara

Oleh

Admin

Di sebuah desa hiduplah seorang gadis bernama Rara. Rara hanya tinggal berdua bersama bundanya. Ayahnya meninggal saat Rara masih kecil. Rara duduk di bangku kelas 3 SMA. Ia seorang gadis yang dulunya terkenal nakal sampai sekarang. Ia tidak tau apa apa tentang pendidikan, sampai sampai ia selalu di remehkan oleh teman temannya di sekolah. Di sekolah Rara hanya bermalas malasan, tidak pernah belajar, kelakuannya di kelas hanya tidur saja. Rasa kemalasan Rara kini membuatnya sadar bahwa ia berbeda dengan teman temannya yang berprestasi baik.

Suatu hari sepualang sekolah Rara sedang duduk di teras depan rumahnya. Bunda Rara yang melihat Rara termenung langsung menghampirinya.

“Rara kamu kenapa, coba cerita ke bunda”, tanya ibu kepada putrinya yang sedang murung.

“Bunda Rara ingin berhenti sekolah”, Jawab Rara dengan perasaan lelah.

“Loh, kok ingin berhenti sih, kan Rara hampir lulus” Ibu menimpalinya.

“Rara sekolah gak ada gunanya bun, percuma Rara sekolah” keluh gadis itu.

“Kok Rara ngomong kayak gitu sih, terus bunda sekolahin kamu gunanya apa?”, jawab ibu dengan balik tanya.

“Rara sadar bun, Rara bodoh, Rara anak nakal, Rara gak tau apa apa dari dulu sampai sekarang kelakuan. Rara cuma bisa tidur, dan malas-malasan buat belajar, Rara malu bun, gak punya prestasi baik”, keluhnya dengan ekspresi menyerah.

“Kamu seperti ayahmu, dulu pendidikan ayahmu sangatlah buruk. Tapi ayahmu masih bisa merubah sikap kemalasan dan kenakalannya itu, ayahmu tidak pernah menyerah, dia terus berusaha sampai ayahmu benar benar memiliki pendidikan dan prestasi yang baik”, jawab ibu dengan menceritakan kisah Ayah gadis tersebut.

“Harusnya kalau Rara malu tidak berprestasi, itu bukan lantas berhenti sekolah. Akan tetapi Rara harus mencontoh ayah. Rara harus bisa merubah sifat malas, karena pendidikan itu sangat penting buat masa depan Rara, Rara pasti bisa dan lebih baik dari pada ayah” lanjut ibu menaehati putri semata wayangnya.

Rara hanya mengangguk dan tersenyum, Dua hari kemudian Rara semakin hari semakin berubah. Malam ini Rara benar-benar berusaha untuk belajar dan membaca buku karena besok akan ada pelaksanaan ujian kelulusan di sekolahnya. Keesokan harinya Rara bangun pagi dan sudah siap dengan pakaian seragam,tas dan sepatunya, lalu Rara berpamitan pada bundanya.

Beberapa menit kemudian sesampainya Rara di gerbang sekolah, Rara masih terbayang-bayang dan tidak menyangka bahwa ia yang sekarang bukan Rara yang dulu lagi. Menyadari perubahannya, dengan senyum ia menuju kelasnya. Sesampainya Rara di kelas semua teman teman Rara merasa aneh melihat tingkah laku temannya. Sampai salah satu teman kelasnya yang bernama Disa dan Wawa,mereka sedang membicarakan Rara.

“Wah sepertinya ada yang berubah nih, coba deh kamu liat 2 hari sebelumnya dan hari hari ini dia rajin banget” Kata Disa.

“Apa mungkin dia berubah karena hampir lulus jadi takutnya dia gak lulus,makanya berubah” Jawab Wawa.

Keduanya manggut-manggut, memaklumi perubahan Rara. Namun tidak sengaja pembicaraan mereka di dengar oleh Rara sendiri.

“Nggak kok, aku memang benar benar berubah, karena aku ingin membenarkan pendidikanku yang mana aku tak mengerti sepenting apa pendidikan itu” kata Rara menjelaskan alasan dibalik perubahan dirinya.

“Kata Ibu, aku harus mulai memikirkan masa depanku, mau jadi manusia macam aku, jika terus bermalas-malasan”, jelasnya lagi.

“Wah betul banget tuh Ra, semoga istiqomah, Ingat, usaha itu tidak akan menghianati hasil”, kata temannya, Wawa, si mantan wakil ketua osis.

Bel masuk pun berbunyi, ujian akhir kelas XII sedang dilangsungkan. Seusai ujian, diperjalanan menuju pulang ke rumah. Rara memikirkan bahwa ia merasa benar-benar bisa berubah. Ia melihat ibunya sedang sibuk di dapur. Ingin sekali rasanya, ia bercerita.

“Gimana ujiannya tadi”, tanya ibu setelah menjawab salam yang diucapkan Rara.

“emang betul ya bun, usaha itu tidak akan sia-sia”, jawabnya sambal senyum, walaupun ia belum tau hasilanya. Tapi tetap saja ia merasa lebih lega, karena telah berusaha untuk belajar sebelum ujian.

“Makanya gitu kok mau menyerah saja, apa kata dunia!” Jawab ibunya sambal bercanda.

Setelah Rara melewati beberapa hari ujian nya hari ini tibalah kelulusannya. Tidak disangka, nilai Rara termasuk nilai 3 besar. Untuk pertama kalinya, ia mendapat nilai bagus. Teman-temannya bahkan terheran-heran dengan perubahan drastis Rara, hingga nilainya melonjak tinggi. Namun dalam hati Rara sebetulanya ia masih bingung, mau kemana setelah lulus. Ia sudah berpikir selama berminggu-minggu. Banyak kemungkinan yang membuatnya murung dan termenung.

Beberapa hari kemudian setelah hari kelulusan, Rara memberanikan diri untuk membertahu ibu dan gurunya tentang keinginannya. Ia ingin sekali kuliah di Yogja, Universitas Gajah Mada. Meskipun rasa tidaknpercaya diri, masih menyelimutinya, ia memberanikan diri untuk mengungkapkan, dengan harapan bisa mendapatkan nasihat. Siapa sangka ibunya justru tersenyum dengan keinginan Rara. Tidak hanya itu, bahkan gurunya juga memberikan support dan sangat yakin, bahwa ia sangat mampu untuk masuk kesana. Buktinya adalah perubahan yang ia lakukan beberapa waktu sebelum ujian. Meskipun tidak lama, hanya 3 bulan mampu meningkatkan nilai dengan pesat, jauh dari nilainya dulu. Ternyata benar, mengungkapkan keinginannya, membuat ia mleihat harapan. Ia pun bertekad, untuk tidak akan pernah menyerah. Ia berusaha dengan tekad yang kuat.

SINGKAT CERITA.
Setelah memelawati perjuangan yang sama sekali tidak mudah selama hampir 1 tahun, akhirnya Rara diterima di Universitas Gajah Mada. Tidak hanya itu, ia juga mendapatkan beasiswa. Bersyukur ia karena bundanya yang selama ini mendukungnya. Ibu yang selalu ada untuk menghibur dan menasehati saat ia sedang kesulitan.

Selama menempuh studi di sana, ia bertemu dengan banyak hal baru yang membuatnya semakin sadar akan pentingnya pendidikan dan arah hidup seorang pemuda. Ia bersyukur, dulu dirinya tidak jadi menyerah. Di sana, ia bertemu dengan banyak orang-orang baru dan pikiran-pikiran baru, yang membuat dirinya semakin memikirkan arah hidupnya, cita-cita sesungguhnya, kesuksesan yang ingin dicapainya.

Penulis : Paradis

Related Post

Leave a Comment