Jember, Hari Raya Idul Adha, atau yang sering disebut sebagai Hari Raya Qurban dan Hari Nahr, merupakan salah satu momentum paling agung dalam kalender Islam. Jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, hari ini tidak hanya menjadi simbol refleksi atas keimanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, tetapi juga menjadi ladang pahala yang sangat luas bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Puncak dari perayaan pagi hari Idul Adha adalah pelaksanaan Shalat Id. Ibadah ini memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam syariat Islam. Memahami keutamaan Shalat Idul Adha serta mengamalkan sunnah-sunnah yang menyertainya adalah kunci untuk meraih kesempurnaan pahala di hari yang suci ini.
Keutamaan Shalat Idul Adha
Shalat Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan atau ajang berkumpulnya masyarakat Islam. Lebih dari itu, ibadah ini membawa dimensi spiritual yang sangat dalam. Berikut adalah beberapa keutamaan utama dari pelaksanaan Shalat Idul Adha:
1. Perintah Langsung dari Allah SWT dalam Al-Qur’an
Keutamaan Shalat Idul Adha diabadikan langsung oleh Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah Al-Kautsar ayat 2:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Mayoritas ahli tafsir menyatakan bahwa perintah “shalat” dalam ayat ini merujuk pada Shalat Idul Adha, yang kemudian diikuti dengan perintah menyembelih hewan qurban (wanhar). Melaksanakan shalat ini berarti kita sedang menunaikan perintah Allah secara langsung sebagai wujud syukur atas segala nikmat-Nya yang tak terhitung.
2. Hukumnya yang Sangat Ditekankan (Sunnah Muakkadah hingga Wajib)
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum Shalat Idul Adha, namun semuanya sepakat bahwa ibadah ini memiliki tingkatan yang sangat penting:
- Sunnah Muakkadah: Pendapat mayoritas ulama (Mazhab Syafi’i dan Maliki) menyatakan hukumnya adalah sunnah yang sangat ditekankan. Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya semenjak disyariatkan.
- Fardhu Kifayah: Menurut Mazhab Hanbali, jika sudah ada sebagian muslim yang mengerjakannya, maka gugur kewajiban bagi yang lain.
- Fardhu ‘Ain (Wajib): Mazhab Hanafi berpendapat bahwa Shalat Id hukumnya wajib bagi setiap muslim yang memenuhi syarat wajib shalat jumat.
Melihat kuatnya penekanan ini, meninggalkan Shalat Idul Adha tanpa udzur yang syar’i adalah sebuah kerugian yang sangat besar bagi seorang mukmin.
3. Syiar Islam dan Persatuan Umat
Shalat Idul Adha disyariatkan untuk dilakukan secara berjamaah di tanah lapang (al-mushalla). Berkumpulnya ribuan umat Muslim—tua, muda, kaya, miskin, laki-laki, dan perempuan—dalam satu barisan yang rapi menciptakan pemandangan syiar Islam yang megah. Ini adalah momentum di mana ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) diperkuat, memperlihatkan persatuan dan kekuatan umat di hadapan Allah SWT.
4. Lebih Utama daripada Shalat Idul Fitri
Dari sisi waktu dan pelaksanaan, sebagian ulama menilai Shalat Idul Adha memiliki keutamaan yang lebih tinggi secara berpasangan dengan ibadahnya dibanding Idul Fitri. Hal ini karena Idul Adha beriringan dengan ibadah qurban dan ibadah haji (wukuf di Arafah pada hari sebelumnya), yang merupakan salah satu puncak ibadah terbesar dalam Islam.
Amalan-Amalan yang Dianjurkan (Sunnah) Sebelum Shalat Idul Adha
Untuk meraih kesempurnaan pahala di hari raya, Rasulullah SAW telah mencontohkan serangkaian amalan sunnah yang bisa kita lakukan sejak fajar menyingsing di tanggal 10 Dzulhijjah.
1. Menghidupkan Malam Hari Raya dengan Takbir dan Ibadah
Sebelum memasuki pagi hari, disunnahkan untuk menghidupkan malam Idul Adha dengan memperbanyak dzikir, istighfar, shalat malam, dan mengumandangkan takbir. Rasulullah SAW bersabda bahwa hati orang yang menghidupkan malam hari raya tidak akan mati di saat hati manusia banyak yang mati (lalai).
2. Mandi Sebelum Berangkat Shalat
Disunnahkan untuk mandi besar sebelum berangkat ke tempat shalat Id. Mandi ini bertujuan agar tubuh bersih, segar, dan bebas dari bau yang tidak sedap, sehingga tidak mengganggu jamaah lain. Waktu mandi dimulai sejak pertengahan malam, namun yang paling utama adalah dilakukan setelah terbit fajar (subuh).
3. Memakai Pakaian Terbaik dan Berwangi-wangian
Sebagai bentuk mengagungkan hari raya Allah, kita dianjurkan untuk memakai pakaian terbaik yang kita miliki. Tidak harus baru, yang penting bersih dan suci. Bagi kaum laki-laki, sangat dianjurkan untuk memakai wangi-wangian (parfum), sedangkan bagi wanita dianjurkan tidak memakai wewangian yang mencolok atau berlebihan ketika keluar rumah.
4. Menahan Diri untuk Tidak Makan Sebelum Shalat
Ini adalah salah satu perbedaan mendasar antara Idul Adha dan Idul Fitri.
- Pada Idul Fitri, kita disunnahkan makan sebelum berangkat shalat untuk menegaskan bahwa masa puasa Ramadhan telah usai.
- Pada Idul Adha, kita disunnahkan untuk tidak makan terlebih dahulu sampai selesai melaksanakan shalat Id.
Hikmahnya adalah agar makanan pertama yang masuk ke mulut kita di hari itu adalah daging hewan qurban kita sendiri setelah disembelih (bagi yang berqurban), atau sebagai bentuk keprihatinan dan empati sebelum hewan qurban disembelih.
5. Berjalan Kaki Menuju Tempat Shalat
Jika jaraknya memungkinkan dan tidak ada halangan fisik (sakit atau hujan), berjalan kaki menuju masjid atau lapangan tempat shalat Id lebih utama daripada berkendaraan. Setiap langkah kaki menuju tempat ibadah dinilai sebagai kebaikan dan penghapus dosa.
6. Mengambil Rute Jalan yang Berbeda Saat Pergi dan Pulang
Rasulullah SAW selalu membedakan jalan berangkat dan jalan pulang saat Shalat Id. Strategi spiritual ini memiliki beberapa hikmah:
- Agar jalan-jalan yang kita lalui menjadi saksi kelak di hari kiamat atas ibadah kita.
- Dapat bertemu, menyapa, dan menebar salam kepada lebih banyak orang yang melewati rute berbeda.
- Menampakkan syiar Islam di berbagai sudut wilayah.
Amalan Selama dan Sesudah Shalat Idul Adha
1. Mengumandangkan Takbir (Takbiran)
Takbir pada Idul Adha terbagi menjadi dua, dan khusus untuk Idul Adha dinamakan Takbir Muqayyad (takbir yang terikat). Takbir ini dikumandangkan setiap selesai shalat fardhu, dimulai dari waktu Subuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga waktu Ashar pada hari Tasyrik yang terakhir (13 Dzulhijjah).
Mengumandangkan takbir dengan suara yang lantang (bagi laki-laki) sepanjang perjalanan menuju tempat shalat adalah sunnah yang sangat dianjurkan.
2. Mendengarkan Khutbah Id dengan Khusyuk
Shalat Id terdiri dari dua rakaat, yang kemudian diikuti oleh khutbah. Berbeda dengan Shalat Jumat di mana khutbah dilakukan sebelum shalat dan hukumnya wajib didengar, khutbah Id dilakukan setelah shalat dan mendengarkannya berstatus sunnah.
Namun, sangat dianjurkan bagi jamaah untuk tidak langsung pulang setelah salam. Duduklah dengan tenang, dengarkan nasihat khatib, dan aminkan doa-doa yang dipanjatkan sebagai penutup ibadah yang berkah.
3. Saling Mengucapkan Selamat (Tahni’ah)
Sesampainya di rumah atau saat bertemu dengan sesama muslim, dianjurkan untuk saling memberikan ucapan selamat yang mengandung doa. Ucapan yang populer di kalangan para sahabat Nabi SAW adalah:
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
“Taqabbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amalan dari kami dan dari kamu sekalian).
4. Menyembelih Hewan Qurban
Bagi mereka yang memiliki kelapangan rezeki, amalan paling utama setelah melaksanakan Shalat Idul Adha adalah menyembelih hewan qurban. Waktu penyembelihan dimulai tepat setelah selesainya Shalat Id dan berlangsung selama 4 hari (10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Menyembelih qurban sebelum shalat Id dinilai sebagai sembelihan daging biasa dan tidak dihitung sebagai pahala qurban.
Tabel Ringkasan: Panduan Praktis Amalan Idul Adha
Untuk memudahkan Anda dalam mempraktikkan sunnah-sunnah ini, berikut adalah tabel ringkasan panduan amalan Idul Adha:
| Waktu Pelaksanaan | Amalan Sunnah yang Dianjurkan | Keterangan / Hikmah |
|---|---|---|
| Malam 10 Dzulhijjah | Ibadah, doa, dan mengumandangkan takbir. | Menghidupkan hati agar tidak lalai. |
| Pagi Hari (Sebelum Shalat) | Mandi besar, memakai baju terbaik, memakai parfum. | Menjaga kebersihan dan mengagungkan syiar Islam. |
| Sebelum Berangkat | TIDAK MENGONSUMSI makanan/minuman. | Sunnah Idul Adha; disarankan makan pertama dari daging qurban. |
| Perjalanan ke Tempat Shalat | Berjalan kaki, mengumandangkan takbir, membedakan rute pergi & pulang. | Memperbanyak pahala langkah kaki dan menyapa tetangga. |
| Saat Shalat & Khutbah | Mengikuti shalat berjamaah dan menyimak khutbah hingga selesai. | Menyempurnakan pahala ibadah Idul Adha. |
| Setelah Shalat (10-13 Dzulhijjah) | Menyembelih qurban, saling mendoakan (tahni’ah), makan bersama. | Bentuk kepedulian sosial dan berbagi kebahagiaan. |
Kesimpulan
Shalat Idul Adha dan rangkaian amalan di dalamnya adalah potret keindahan Islam yang memadukan antara ketaatan vertikal kepada Allah (Hablum minallah) dan keharmonisan horisontal antar sesama manusia (Hablum minannas). Melalui shalat kita menghambakan diri, melalui takbir kita mengagungkan-Nya, dan melalui qurban serta silaturahmi kita berbagi kebahagiaan dengan sesama, terutama kaum dhuafa.
Mari kita persiapkan diri kita—lahir dan batin—untuk menyambut Hari Raya Idul Adha dengan menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Semoga Allah SWT menerima seluruh rangkaian ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-Nya yang bertaqwa. Selamat Menyambut Hari Raya Idul Adha.
Penulis: Tim Media Madrasah







